MAKALAH
ENTERPRISE RESOURCE PLANNING
(ERP)
Makalah
ini dibuat untuk memenuhi
Tugas Mata Kuliah
Perencanaan Sumber Daya Perusahaan
Dosen
Pengampu:
Seftia Lutfi, S.Kom.,M.Kom
Oleh :
Arif Rahman
NIM : 1118R0669
PROGRAM STUDI SISTEM
INFORMASI
SEKOLAH TINGGI MANAJEMEN INFORMATIKA DAN KOMPUTER
STMIK HIMSYA
SEMARANG
2022
BAB
I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Enterprise
Resoure Planning (ERP)
adalah
sistem informasi terintegrasi
yang dapat mengakomodasikan kebutuhan-kebutuhan
system informasi secara spesifik
untuk departemen – departemen yang berbeda pada suatu perusahaan.
ERP terdiri
dari bermacam – macam
modul yang disediakan untuk berbagai kebutuhan
dalam suatu perusahaan, dari modul untuk keuangan sampai modul untuk distribusi.
Pengguna ERP menjadikan semua system di dalam suatu perusahaan menjadi satu system yang terintegrasi dengan satu database, sehingga beberapa departemen
menjadi lebih mudah dalam melakukan komunikasi.
Penerapan
ERP dalam
suatu perusahaan tidak
harus dalam sistem yang
utuh, tetapi dapat diterapkan dengan hanya
menggunakan satu modul saja dulu sebagai pilot project. Jika penerapan
satu modul dinilai berhasil, maka dapat menerapkan modul
lain dengan refrensi
modul yang sudah
berhasil.
Ada beberapa software ERP yang dikenal secara
umum, seperti SAP, PeopleSoft, JDEdward dan beberapa merk lainnya. Tidak semua software tersebut
bisa dikostumisasi sesuai dengan kebutuhan bisnis perusahaan, kadang kala perusahaan harus
merubah aturan bisnisnya untuk
dapat menggunakan software ERP tertentu.
Aturan
bisnis dan kebutuhan sistem
ERP berbeda dan spesifik untuk setiap
perusahaan. Perusahaan skala
besar, dengan dukungan kondisi ekonomi yang relatif besar, akan dengan mudah memilih softrware
mana yang
akan digunakan sekalipun harus
merubah kebutuhan
bisnisnya. Namun, untuk perusahaan skala kecil dan menengah, hal ini tentu saja sulit dilakukkan. Selain harga software ERP yang
cukup tinggi.
1.2. Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah berdasarkan latar belakang diatas adalah sebagai
berikut :
1.
Apa pengertian dari sistemERP?
2.
Apa tujuan dari Enterprise Resource Planning ( ERP )?
3.
Apa manfaat Enterprise Resource Planning ( ERP ) dalam
Perusahaan?
4.
Bagaimana karakteristik sistem
ERP?
5.
Apa kelebihan dan kekurangan Enterprise Resource Planning ( ERP
)?
6.
Bagaimana Fase-fase dalam
implementasi
sistem ERP?
7.
Bagaimana penerapan
ERP pada suatu
perusahaan?
8.
Bagaimana siklus hidup pengembangan sistem ERP ?
9.
Apa keberhasilan dan
kegagalan dari
implementasi sistem
ERP?
1.3. Batasan Masalah
Agar permasalahan
dalam
rumusan masalah lebih spesifik,
maka pada
makalah ini penulis
membatasi pembahasan
masalah
sebagai berikut:
1.
Pengertian sistem
ERP?
2.
Tujuan dari Enterprise Resource Planning ( ERP )
3.
Manfaat dari Enterprise Resource Planning ( ERP ) dalam
Perusahaan
4.
Karakteristik system ERD
5.
Kelebihan dan kekurangan Enterprise Resource Planning ( ERP )
6.
Fase – fase dalam implementasi sistem
ERP
7.
Penerapan ERP Pada Suatu Perusahaan
8.
Resiko yang berkaitan dengan Implimentasi
Sistem
ERP?
9.
Keberhasilan
dan
Kegagalan
Dari Implementasi Sistem ERP ?
1.4. Tujuan Penulisan
Adapun tujuan dari penulisan makalah
ini adalah sebagai berikut :
1.
Sebagai
syarat untuk
memenuhi tugas matakuliah Perencanaan Sumber Daya Perusahaan
2.
Agar mahasiswa
mampu memahami bagaimana implementasi sistem
ERP pada suatu perusahaan.
1.5. Manfaat
Penulisan
Adapun manfaat dari
disusunnya makalah
ini adalah sebagai berikut:
1.
Sebagai
sumber bacaan dan
pengetahuan bagi
mahasiswa
yang mengikuti matakuliah
ERP
2.
Dengan adanya makalah ini mahasiswa dapat memahami implementasi
system ERP
BAB
II
PEMBAHASAN
2.1. Definisi Enterprise
Resource Planning (ERP)
ERP singkatan
dari 3 elemen kata
yaitu, Enterprise
(perusahaan / organisasi),
Resource (sumber
daya), Planning (perencanaan), 3 kata ini
mencerminkan sebuah konsep yang berujung
kepada kata kerja, yaitu
“planning” yang berarti
bahwa ERP menekankan
kepada
aspek perecanaan.
ERP (Enterprise Resource
Planning) merupakan software yang
mengintegrasikan semua
departemen
dan fungsi suatu perusahaan, baik
departemen penjualan, HRD, produksi, atau keuangan. Konsep ERP dapat
dijalankan dengan baik jika didukung aplikasi dan infrastruktur komputer baik hardware/software.
Syarat terpenting dari sistem ERP adalah integrasi yang
maksudnya yaitu menggabungkan berbagai kebutuhan
pada satu software
dalam satu logical database. Database yang ada dapat mengijinkan setiap departemen dalam perusahaan untuk menyimpan dan mengambil informasi yang dapat diakses dan
mudah disebarluaskan.
Sistem ERP adalah sebuah terminologi yang
diberikan kepada sistem
informasi yang
mendukung transaksi atau operasi sehari-hari dalam pengelolaan
sumber daya perusahaan. Tujuan sistem ERP adalah untuk mengkooordinasikan
bisnis organisasi secara keseluruhan.
Sistem ERP merupakan seperangkat infrastruktur dan software yang tidak dapat dilepaskan dari
aspek ‘best practices’ yang
artinya merupakan pencerminan cara
terbaik dalam mengelola bisnis berdasarkan pengalaman para pelaku bisnis.
Tujuan utama adalah untuk meningkatkan kerja sama
dan
interaksi antar semua
departemen/ fungsi
dalam perusahaan.
2.2. Tujuan Enterprise Resource
Planning ( ERP )
Tujuan System ERP adalah
untuk mengkoordinasikan bisnis organisasi secara
keseluruhan. ERP merupakan software yang ada
dalam organisasi/perusahaan
untuk:
1.
Otomatisasi dan integrasi banyak proses bisnis
2.
Membagi
database yang
umum dan praktek bisnis
melalui enterprise
3.
Menghasilkan
informasi yang real-time
4.
Memungkinkan perpaduan
proses transaksi
dan kegiatan perencanaan
Konsep Dasar ERP
Konsep
dasar
ERP
dapat dilihat pada diagram
di bawah
ini :
Evolusi Sistem ERP
Tahapan Evolusi Sistem ERP
1.
Tahap I :
Material Requirement Planning
(MRP)
Merupakan cikal bakal
dari ERP, dengan konsep perencanaan kebutuhan material
2.
Tahap II:
Close-Loop
MRP
Merupakan sederetan fungsi dan tidak hanya
terbatas pada MRP, terdiri atas alat
bantu penyelesaian masalah prioritas dan adanya rencana yang
dapat diubah atau
diganti jika diperlukan
3.
Tahap III: Manufakturing
Resource Planning (MRP II)
Merupakan pengembangan
dari close-loop
MRP yang ditambahkan
3
elemen
yaitu: perencanaan penjualan dan operasi, antarmuka keuangan dan simulasi
analisis dari kebutuhan yang diperlukan
4.
Tahap IV:
Enterprise Resource Planning
Merupakan perluasan dari MRP II yaitu perluasan pada beberapa
proses bisnis
diantaranya integrasi keuangan, rantai pasok
dan
meliputi lintas batas fungsi organisasi dan juga perusahaan dengan
dilakukan secara mudah
5.
Tahap
V: Extended ERP (ERP II)
Merupakan perkembangan dari
ERP yang diluncurkan
tahun 2000, serta lebih
konflek dari ERP sebelumnya.
Perusahaan Yang Mengimplementasikan ERP
Integrasi ERP Dalam Organisasi
Modul ERP
§
Manufacturing
§
Supply Chain
Management
§
Financials
§
Projects
§
Human Resources
§
Customer
Relationship Management
§
Data warehouse
§
Access Control
§
Customization
2.3. Manfaat
Sistem ERP
§ Menawarkan
sistem terintegrasi di dalam perusahaan, sehingga proses dan pengambilan keputusan dapat dilakukan secara
lebih efektif dan efisien dan
Memungkinkan melakukan integrasi
secara global
§ Menghilangkan kebutuhan
pemutakhiran dan koreksi data seperti yang
terjadi pada sistem yang terpisah
§ Memungkinkan
manajemen mengelola operasi dan tidak memonitor
saja dan lebih mampu menjawab semua pertanyaan yang ada dan
Membantu melancarkan
pelaksanaan manajemen rantai pasok serta memadukannya
§ Memfasilitasi hubungan komunikasi secara internal dan eksternal dalam dan luar
organisasi
§ Dapat menurunkan kesenjangan antara pemrograman dengan cara perawatan
sistem yang sah dan Dapat
menurunkan
kompleksitas
aplikasi dan teknologi.
Manfaat
dan cara mendapatkannya
2.4. Karakteristik system ERD
Secara umum sistem ERP memiliki
beberapa karakteristik sebagai berikut:
1.
Sistem ERP merupakan
paket software yang didesain pada lingkungan client-server
baik tradisional (berbasis desktop) maupun berbasis web.
2.
Sistem ERP mengintegrasikan
mayoritas bisnis proses yang ada.
3.
Sistem ERP memproses
seluruh transaksi organisasi perusahaan.
4.
Sistem ERP menggunakan
database skala enterprise untuk penyimpanan data.
5.
Sistem ERP mengijinkan
pengguna mengakses data secara real-time.
Sedangkan
Karakteristik ERP menurut Daniel E. O’Leary meliputi hal-hal
sebagai berikut:
1.
Sistem ERP adalah
suatu paket perangkat lunak yang didesain untuk lingkungan pelanggan
pengguna server, apakah itu secara tradisional atau berbasis
jaringan.
2.
Sistem ERP memadukan
sebagian besar dari proses bisnis.
3.
Sistem ERP memproses
sebagian besar dari transaksi perusahaan.
4.
Sistem ERP menggunakan
basis data perusahaan yang secara tipikal menyimpan setiap data sekali saja.
5.
Sistem ERP memungkinkan
mengakses data secara waktu nyata (real-time)
6.
Dalam beberapa hal
sistem ERP memungkinkan perpaduan proses transaksi dan
kegiatan perencanaan
7.
Sistem ERP menunjang
sistem multi mata uang dan bahasa, yang sangat diperlukan
oleh perusahaan
multinasional.
8.
Sistem ERP memungkinkan penyesuaian untuk kebutuhan khusus perusahaan
tanpa melakukan pemrograman
kembali.
2.5. Kelebihan dan Kekurangan Enterprise
Resource Planning ( ERP )
Sebagai sebuah sistem yang diciptakan khusus
untuk membantu dan mempersingkat waktu dalam operasional perusahaan maupun
bisnis, tentu saja ERP telah teruji dari waktu ke waktu. Bahkan banyak bisnis
dan perusahaan yang telah menggunakan sistem ini sejak dari mereka mengerti
betapa pentingnya keteraturan dalam struktur bisnis mereka. Namun begitu, ERP
juga memiliki dua sisi, yakni kelebihan dan kekurangannya tersendiri.
2.5.1.
Kelebihan
Sistem ERP (Enterprise Resource Planning)
Bisa dikatakan kalau ERP adalah aset bagi
banyak organisasi karena sistem ini membuat bisnis Anda berjalan lebih lancar
dengan menghasilkan laporan yang mudah dipahami menyatukan dan melindungi
informasi Anda, mengotomatiskan proses, dan tindakan lain yang diperlukan
bisnis Anda. Dengan kemampuan ini akan membantu perusahaan dan bisnis dalam
operasi sehari-hari dan perencanaan jangka panjan mereka menjadi lebih efisien
serta tertarget. Berikut manfaat lainnya yang bisa Anda dapatkan jika
mengimplementasikan perangkat lunak ERP :
1.
Membuat
proses bisnis lebih efisien
Sebelum adanya implementasi sistem ERP, semua
informasi disimpan dalam database yang berbeda. Informasi ini dapat digandakan
dan ada risiko tinggi bahwa informasi tersebut mungkin bukan versi terbaru.
Oleh karena itu, keputusan yang dibuat berdasarkan informasi ini mungkin tidak
akurat. Adanya ERP membuat semua informasi disimpan dalam satu database yang
berarti setiap orang dapat mengakses dan memperbarui informasi dari berbagai
departemen untuk mencerminkan informasi terbaru dalam sistem. Ini mengurangi
risiko file duplikat karena semua informasi akan diperbarui dalam satu
database. Dengan demikian, keputusan yang diambil akan lebih akurat dan dapat
diandalkan.
2.
Informasi
yan terintegrasi disemua departemen
Jika merujuk pada cara lama, perusahaan
digunakan untuk menyimpan informasi di database setiap departemen. Dengan
demikian, informasi hanya akan dibagikan dalam departemen tertentu dimana bila departemen
lain ingin mendapatkan data atau informasi, mereka harus bertanya kepada
manajer departemen masing-masing untuk mengakses informasi tersebut.
Menggunakan sistem ERP, sistem dapat menyimpan semua informasi di semua
departemen dalam satu database yang berarti semua karyawan dari departemen yang
berbeda dapat menggunakan informasi dari database tanpa persetujuan departemen
lain.
3.
Pelaporan
dan perencanaan yang tertata
Dengan menerapkan ERP di semua departemen
bisnis dan perusahaan, itu berarti bahwa perusahaan telah memiliki satu sistem
pelaporan terpadu untuk setiap proses. Maka dengan memiliki satu sumber data
dan informasi, sistem ERP dapat dengan mudah menghasilkan analitik dan laporan
yang berguna kapan saja. Ini tidak lepas karena ERP memberi manajemen kemampuan
untuk membandingkan dan menganalisis fungsi lintas departemen dan divisi tanpa
bias dari banyak email dan spreadsheet. Bahkan ERP memungkinkan manajemen untuk
menghasilkan laporan khusus mereka sendiri dan mereka dapat dengan cepat dihasilkan
tanpa bergantung pada bantuan tim IT lagi yang akan membuat proses kerja lebih
efisien dalam hal waktu.
4.
Visibilitas
yang jelas
ERP memungkinkan akses total ke setiap proses
penting atau utama dalam bisnis dengan memungkinkan data dapat diakses dari setiap
departemen ke manajemen. Melalui ini, manajemen dapat mengontrol tingkat
persediaan secara harian, mingguan atau bulanan termasuk kiriman masa depan
yang belum diterima. Setelah mengetahui secara tepat posisi perusahaan mengenai
tingkat persediaan, maka dapat membantu manajemen untuk mengontrol modal kerja
dengan cara yang lebih tepat. Selain itu, ketersediaan semua informasi
perusahaan di lokasi terpusat memungkinkan peningkatan kolaborasi dan
penyelesaian tugas kompleks yang lebih efisien. Visibilitas lengkap ini
memberikan alur kerja yang lebih baik dan memungkinkan proses antar-departemen
untuk dilacak dengan mudah dengan efisiensi maksimum.
2.5.2.
Kekurangan
Sistem ERP (Enterprise Resource Planning)
Seperti dua sisi yang telah disebutkan diatas,
maka ERP juga mempunyai kekurangannya tersendiri. Walau Anda ingin segera
menggunakan sistem ini untuk bisnis dan perusahaan Anda, ketahui juga beberapa
kekurangannya seperti :
1.
Biaya
pemeliharaan
Biaya awal perangkat lunak saja bisa sangat
tinggi, terutama untuk perusahaan kecil dan menengah. Meskipun biaya ini dapat
dihindari dengan menggunakan solusi cloud dengan pembayaran bulanan tetapi
bukan berarti cara ini juga tidak lepas dari kelemahannya sendiri juga.
2.
Penurunan
efektifitas
Sebuah perusahaan harus memahami bahwa
penerapan sistem membutuhkan waktu yang lama yang dikarenakan membutuhkan waktu
untuk melakukan migrasi data, menyelenggarakan kursus pelatihan bagi karyawan
dan tugas-tugas lainnya. Hal ini dapat membawa kerugian yang sangat besar bagi
perusahaan dari segi waktu dan biaya. Proses implementasi bisa memakan waktu
dari sebulan hingga bertahun-tahun dimana jika perusahaan tidak menangani
dengan baik risiko yang mungkin terjadi, kemungkinan besar mereka tidak dapat
pulih dari kerugian.
3.
Proses
kustomisasi
Proses ini membutuhkan banyak waktu, tenaga,
uang dan keahlian yang mana tidak semua bisnis dan perusahaan benar- benar
memahami proses pentingnya. Banyak perusahaan mungkin berfokus pada penyesuaian
yang ketika sistem yang Anda pilih tidak benar-benar memenuhi kebutuhan bisnis
Anda, membuatnya menjadi kendala baru tersendiri.
2.6. Fase – Fase Implementasi Sistem ERP
Adapun fase – fase sistem ERP
adalah sebagai berikut
:
2.6.1
Fase inisisasi
Fase inisiasi yaitu berupa rencana strategis
atau juga dari beberapa kejadian yang muncul di perusahaan misalnya ada tawaran
dari vendor, pergerakan industri, peningkatan kualitas proyek, perubahan pada peraturan
dan hukum atau pemnafaatan anggaran teknologi informasi yang lebih baik.
2.6.2
Fase evaluasi
Pada fase ini meliputi evaluasi proses bisnis, analisa kebutuhan, evaluasi berbagai alternatif,
pencarian
vendor yang
potensial dan evaluasi
berbagai produk yang berbeda.
2.6.3
Fase selection
Pada fase ini dapat
berlangsung dalam waktu yang cukup
lama.
Karena dihabiskan untuk
menyeleksi
berbagai potensi alternatif
termasuk peluang mengakhiri proyek
atau memutuskan proyek
jika
lingkungannya ternyata tidak siap menerima proyek tersebut.
2.6.4
Fase modifikasi
Fase modifikasi
dapat
dijalankan dengan dua cara, cara pertama
yaitu memodifikasi apa saja yang terjadi dalam
rangkaian proses analisa-
konfigurasi dan pengujian sampai mendapatkan hasil yang diinginkan atau
sampai batasan waktu
tertentu. Cara kedua yaitu
dengan melakukan
pemilihan
status target tertentu kemudian menerapkan pengukuran
atas pencapaian
target tertentu.
Dalam fase modifikasi perlu
dilakukan tahapan
pelatihan bagi para pengguna.
2.6.5
Fase penyelesaian
Apabila semua berjalan dengan
lancar,
maka konsumen
akan
melunasi pembayaran yang tergantung pada kontrak.
Pada tahapan
ini perusahaan akan mendapatkan
pelajaran serta pengalaman
atas semua kejadian
selama proyek
implementasi
berlangsung,
termasuk evaluasi keberhasilan
dan
kegagalan
serta peluang implementasi
selanjutnya.
2.7. Penerapan ERP pada Perusahaan
Penggunaan sistem
informasi (SI) untuk mendukung proses bisnis pada sebuah perusahaan kini telah
menjadi suatu tuntutan agar perusahaan dapat mencapai tujuan yang ditetapkan.
Oleh karenanya, penerapan SI yang tepat diharapkan menjadi nilai tambah (value
added) untuk menjaga agar mata rantai perusahaan tetap berputar dalam
menghadapi persaingan secara global dengan menyediakan data dan informasi yang
akurat untuk digunakan dalam setiap pengambilan keputusan bisnis. Berangkat
dari kondisi dinamika bisnis yang sangat dinamis dan arus informasi yang begitu
cepat dan tersebar, maka saat ini perusahaan sangat memerlukan suatu alat yang
dapat memproses informasi dengan cepat, tepat dan spesifik yang dapat membantu
proses pengambilan keputusan.
Saat ini banyak penyedia
sistem aplikasi terintegrasi (ERP) berusaha menawarkan solusi bisnis
yang dapat diandalkan sehingga mampu menghasilkan best practice bagi
penggunanya. Sistem ERP (Enterprise Resource Planning)
merupakan sistem informasi yang diperuntukkan bagi perusahan untuk
mengintegrasikan dan mengotomatisasikan proses bisnis yang berhubungan dengan
aspek operasi, produksi maupun distribusi di perusahaan bersangkutan.
ERP berkembang dari Manufacturing Resource Planning (MRP
II) dimana MRP II adalah hasil evolusi dari Material Requirement Planning (MRP)
yang berkembang sebelumnya. Sistem ERP secara modular biasanya
mengangani proses manufaktur, logistik, distribusi, persediaan (inventory),
shiping, pembayaran dan akuntansi perusahaan. ERP sering
disebut sebagai Back Office System yang mengindikasikan bahwa
pelanggan dan masyarakat secara umum tidak dilibatkan dalam sistem ini.
Secara teknis, ERP berfungsi
mengintegrasikan berbagai sistem informasi yang tersebar di masing – masing
departemen (unit fungsional) di sebuah lembaga. Dengan adanya sistem yang
terintegrasi tersebut maka masing – masing unit fungsional dalam lembaga
tersebut dapat saling berbagi data dan informasi yang pada akhirnya
meningkatkan sinergi antar elemen di perusahaan yang menerapkannya.
ERP juga membantu kita dalam melakukan standarisasi proses operasi
melalui implementasi best practice sehingga terjadi peningkatan Produktivitas,
penurunan inefisiensi, dan peningkatan kualitas produk. Dalam pencapaian
standarisasi proses operasi, terlebih dahulu dilakukan standarisasi data dan informasi
melalui keseragaman pelaporan, terutama untuk perusahaan besar yang memiliki
banyak unit bisnis dengan jumlah dan jenis yang berbeda – beda.
Banyak perusahaan di
Indonesia yang berhasil mengimplementasi system ERP bagi
perusahaan mereka. Oleh karena itu, vendor ERP berhasil
memperoleh banyak peminat yang mencakup berbagai tingkatan perusahaan dari
perusahaan menengah ke bawah hingga perusahaan multinasional dan transnasional.
Sudah banyak manfaat yang
diperoleh perusahaan tersebut dengan melakukan implementasi produk ERP yang
mereka gunakan. Diantaranya meningkatkan nilai penjualan, meningkatkan prestige perusahaan
sehingga meningkatkan kepercayaan pelanggan terhadap perusahaan, melakukan
standarisasi proses bisnis untuk mencapai nilai integrasi yang
diinginkan.Banyak perusahaan yang memperoleh manfaat dari penerapan ERP,
sementara di sisi lain juga ditemukan beberapa perusahaan menghadapi
permasalahan dalam penerapan ERP.
Penerapan ERP memerlukan
investasi dan biaya yang cukup mahal, baik
initial cost maupun running cost,
memerlukan beberapa customized atau tailoring untuk melakukan
implementasi / penerapan sistem aplikasi ERP
dengan proses
bisnis dan supply chain management perusahaan, memerlukan biaya dan waktu untuk
kegiatan konsultansi dan pelatihan untuk implementasi
ERP.
Agar perusahaan berhasil
dalam menerapkan ERP, manajemen perusahaan
perlu melakukan pelatihan yang intensif, mulai dari
tingkat manajerial sampai dengan tingkat operasional. Perubahan budaya
dan cara kerja perlu dilakukan untuk menyesuaikan dan menyesuaikan dengan
proses bisnis yang baru berbasis ERP.
Penggunaan ERP menjadikan
semua sistem di dalam suatu perusahaan menjadi satu sistem yang
terintegrasi dengan satu database, sehingga beberapa departemen menjadi lebih
mudah dalam berbagi data, dan lebih mudah pula dalam melakukan komunikasi.
Perangkat lunak ERP yang beredar di pasaran, tidak
hanya dalam versi komersial saja, tetapi juga sudah tersedia dalam versi open source.
Penerapan ERP dalam
suatu perusahaan tidak harus dalam satu sistem yang utuh, tetapi
dapatditerapkan dengan hanya menggunakan satu modul saja dulu sebagai pilot
project. Jika penerapan satu modul dinilai berhasil, maka dapat menerapkan
modul lain dengan referensi modul yang sudah berhasil. Proses bisnis yang
berbeda antara satu perusahaan satu dengan perusahaan lain, memungkinan
dilakukan kustomisasi ERP
dalam penerapannya.
2.8. Implementasi Sistem ERP
Implementasi sistem ERP tergantung pada ukuran bisnis, ruang lingkup dari perubahan dan peran serta pelanggan. Penerapan ERP banyak ditemukan pada industri manufaktur. Penerapan
ERP
tersebut
menggunakan berbagai aplikasi atau software ERP. Software ERP yang banyak beredar di pasaran yaitu SAP, JDE,
Baan,
Protean,
Compiere, Magic, dll.
Ada beberapa alternatif cara dalam
menerapkan sistem
ERP, diantaranya adalah:
1.
Melakukan
instalasi aplikasi
ERP
secara langsung dan menyeluiruh
Perusahaan mengganti
sitem
lama
dengan
sitem ERP.
Cara ini juga
mengandung resiko, seperti kesiapan perusahaan dengan adanya pergantian
sistem yag baru.
2.
Melakukan
strategi franchise
Cara
ini dilakukan dengan mengimplementasikan beberapa sistem ERP yang berbeda pada setiap unit perusahaan. Implementasi biasanya fokus pada satu unit
terlebih dahulu. Cara Ini mengurangi resiko kegagalan sambil menguji
sistem ERP pada unit itu
apakah bisa berjalan dengan baik atau tidak. Apabila
hasilnya memuaskan, maka
sistem ERP dapat diimplementasikan
ke unit yang lain secara bertahap
berdasarkan referensi
percobaan
sebelumnya.
Studi Kasus Implementasi Sistem ERP
PT Indofood
CBP Sukses Makmur Tbk. Merupakan produsen jenis makanan dan minuman yang
bermarkas di Jakarta, Indonesia. Didirikan
tahun 1990 oleh sudono salim dengan nama Panganjaya Intikusuma.
Perusahaan ini telah bertransformasi menjadi sebuah
perusahaan Total Food
Solutions.
1.
Permasalahan yang dihadapi :
§ Indofood Tbk adalah
perusahaan
dengan cakupan bisnis yang sangat
luas.
§ Perusahaan ini
memproduksi berbagai
jenis
olahan pangan
§ Aktivitas
bisnis dilakukan dalam skala besar.
2.
Penerapan ERP di Indofood
Tbk. :
§ SAP R/3
sebagai solusi ERP
§ SAP Advance Planner and Optimizer (SAP APO) sebagai solusi Supply
Chain Management (SCM)
3.
Manfaat implementasi ERP di PT
Indofood Tbk. :
§ Menyesuaikan minat konsumen
§ Distribusi informasi
§ Pengarsipan
dokumen
4.
Tantangan
yang dihadapi :
§ Investasi ERP sangat mahal dan pilihan ERP yang salah bisa menjadi
mimpi buruk
§ ERP yang
berhasil digunakan oleh sebuah
perusahaan tidak menjadi jaminan berhasil diperusahaan yang lain
§ Perencanaan harus dilakukan untuk menyeleksi ERP yang tepat
§ Orang –orang tidak disiapkan untuk menerima dan beroperasi dengan sistem yang baru.
2.9. Keberhasilan dan Kegagalan
Penerapan Sistem ERP
2.9.1.
Keberhasilan
Ada beberapa
hal yang
sangat menentukan
keberhasilan implementasi ERP, yaitu:
1.
Proses bisnis yang matang
Hal ini
merupakan
suatu
syarat
mutlak bagi sebuah
perusahaan yang akan melakukan implementasi ERP. ERP tidak dapat diimplementasikan pada
perusahaan yang tidak
memiliki
proses bisnis yang jelas.
2.
Change management yang baik
Implementasi
sebuah sistem akan selalu diikuti dengan
perubahan kebiasaan pada perusahaan
tersebut. Change management sangat
diperlukan untuk memberikan pelatihan
kepada pengguna,
operator atau
pihak yang
akan bersentuhan langsung dengan sistem
yang baru.
3.
Komitmen
Implementasi
ERP
dalam perusahaan,
pasti akan menyita banyak waktu dan
tenaga. Komitmen dari
pimpinan perusahaan hingga pengguna yang
akan
bersentuhan langsung dengan sistem sangat diperlukan.
4.
Kerjasama
Kerjasama harus
dilakukan dengan baik anatara internal perusahaan maupun
antara perusahaan
dengan konsultan yang melakukan
inplementasi. Konsultan dan pengguna sudah
menyatukan visi
untuk keberhasilan
implementasi.
5.
Good
Consultant
Pengalaman
konsultan yang melakukan implementasi juga sangat
berpengaruh
dalam implementasi.
2.9.2.
Kegagalan Penerapan Sistem ERP
Dari berbagai implementasi di perusahaan dapat disimpulkan bahwa
yang menjadi
penyebab
utama
kegagalan
implementasi
dan instalasi ini
adalah
beberapa faktor yaitu:
1.
Ketika tidak ada atau kurangnya dukungan dari pimpinan
Instalasi dan
implementasi
ERP
adalah
suatu
keputusan
yang harus diambil oleh pimpinan. Orang-orang harus mempunyai komitmen yang tegas untuk
melakukan perubahan di bagian
masing-masing. Orang
–
orang yang dimasukkan dalam proyek akanmeluangkan waktunya
sebagian besar untuk proyek ini yang pada awalnya kelihatan seperti
hal yang tidak
berguna. Disinilah
dibutuhkan dukungan dari pimpinan.
2.
Ketika proyek
dianggap sebagai
proyek
dari satu departemen saja
Proyek tidak akan berjalan sebagaimana
mestinya jika
ada
asumsi bahwa
proyek
ini hanya milik
satu bagian/departemen saja. Padahal dengan ERP
ini nantinya akan terjadi keterkaitan antara departemen yang
satu dengan departemen yang lain.
3.
Ketika tidak ada yang diserahi tugas untuk
menjadi Person in charge (PIC).
Untuk satu
proyek
seperti ini sangat dibutuhkan
seseorang yang ditugaskan
untuk menjadi PIC atau
project manager. Hal ini untuk meningkatkan komitmen
agar
terpenuhi semua pekerjaan sesuai
dengan jadwal yang
sudah direncanakan. Implementasi dan
instalasi
ini membutuhkan biaya, waktu dan sumber daya yang
tidak sedikit sehingga
dibutuhkan seseorang yang bertanggung jawab.
4.
Ketika
untuk segala proses
dan prosedur implementasi diserahkan kepada tim IT saja.
Hal ini umum terjadi, dimana anggota tim yang
terlibat proyek implementasi hanya menyerahkan pengambilan
keputusan atau
perubahan prosedur kepada pihak IT saja dengan alasan mereka orang yang secara
teknik menguasai
bidang tersebut.
Padahal
yang mengetahui prosedur yang benar di bagian masing-masing adalah pihak yang
terlibat utama di
dalamnya.
5.
Vendor yang
melakukan
implementasi
kurang
atau tidak memiliki
kemampuan dan kompetensi yang baik dalam melakukan implementasi
dan instalasi
Disini dibutuhkan
vendor yang akan
melakukan implementasi dan instalasi yang
sudah mengetahui kira-kira masalah yang akan muncul dan memiliki
kemampuan untuk memecahkan masalah sesuai dengan pengalaman yang dimiliki.
2.10.
Resiko Yang Berkaitan
Dengan ERP
Berikut resiko yang perlu dipertimbangkan
dalam implementasi ERP:
2.10.1
Implementasi dengan
pendekatan Big-Bang dan Phased-In
Kebanyakan implementasi ERP mengalami kegagalan
karena
masalah budaya dalam perusahaan yang menentang proses ini. Ada beberapa pendekatan
dalam
mengimplementasikan
ERP, antara lain:
1.
Pendekatan
big-bang.
Pendekatan ini mencoba untuk
mengalihkan operasi
dari sistem lama ke sistem baru
sekaligus, tanpa adanya tahapan pengimplementasian. Hal ini tentunya akan mendapat penentang karena
setiap orang dalam organisasi lebih
familiar dengan sistem lama. Selain
itu,
individu seringkali menemukan
dirinya mengisi data lebih banyak dibanding dengan saat menggunakan sistem lama. Hal tersebut dapat
menyebabkan gangguan pada operasi harian. Tetapi ketika periode penyesuaian dapat terlewati dan munculnya budaya perusahaan baru, ERP menjadi alat
operasi dan strategik yang memberikan
keuntungan
kompetitif kepada perusahaan.
2.
Pendekatan
Phased-In.
Karena banyaknya tentangan
atas pendekatan diatas, maka pendekatan
ini menjadi alternative
favorit dalam
pengimplementasian ERP. Pendekatan
ini mengimplementasikan ERP pada
unit bisnis satu demi satu. Proses dan data umum dapat disatukan
tanpa harus mengganggu operasi perusahaan. Tujuan dari pendekatan
ini adalah untuk membuat
ERP
dapat
berjalan dengan baik
bersamaan
dengan sistem lama, setelah fungsi-fungsi organisasi terkonversikan
kedalam
sistem yang baru,
sistem lama diistirahatkan.
2.10.2
Oposisi Terhadap Perubahan Budaya Bisnis
Perubahan harus dapat didukung oleh budaya organisasi itu sendiri agar
implementasi ERP dapat berhasil. Selain itu, diperlukan staf
teknis untuk sistem baru ini atau basis pengguna yang paham teknologi komputer agar proses
pembelajarannya dapat
berjalan lancar.
2.10.3
Memilih ERP Yang Salah
Alasan umumnya dari kegagalan pengimplementasian ERP adalah ERP tidak mendukung satu atau lebih proses bisnis yang penting. Jika salah memilih, dibutuhkan perubahan model ERP yang luas, memakan waktu, dan juga
tentunya menghabiskan
dana yang tidak sedikit. Gangguan serius
dapat
terjadi dikarenakan
kealpaan ini.
Lebih lanjut,
pengembangan dari sistem
ERP ini akan menjadi
lebih
sulit lagi.
2.10.4
Goodness
Of Fit
Manajemen perlu
yakin
bahwa ERP yang dipilih tepat
bagi
perusahaan.
Untuk menemukannya diperlukan
proses seleksi perangkat lunak yang
meyerupai
corong,
yang dimulai dari
hal
yang
luas lalu menjadi lebih terfokus.
Tetapi, jika proses bisnis itu sangat unik, sistem ERP harus
dimodifikasi agar dapat berjalan dengan sistem yang lama atau
mengakomodasi perangkat lunak bolt-on. Isu skalabilitas sistem.
Jika manajemen memperkirakan volume
bisnis yang meningkat saat penggunaan sistem ERP, mereka memiliki isu skalabilitas yang
perlu dialamatkan.
Skalabilitas adalah
kemampuan
dari sistem untuk berjalan
secara lancar dan ekonomis saat
persyaratan
pengguna
bertambah. Ukuran dari
skalabilitas
yang penting adalah size, speed,
dan workload.
2.10.5
Memilih Konsultan Yang
Salah
Sukses dari pengimplementasian ini tergantung
dari keahlian dan pengalaman yang
biasanya tidak tersedia langsung. Karena itu, kebanyakan implementasi
ERP melibatkan perusahaan
konsultan
yang mengkoordinasikan
proyek,
membantu organisasi dalam
mengenali kebutuhannya.
Tetapi, dengan banyaknya permintaan pengimplementasian sistem ERP, maka
perusahaan
konsultan kekurangan sumber
daya
manusia. Hal ini menyebabkan
penempatan individu yang
tidak sesuai dengan kualifikasi. Permasalahan ini menyebabkan
banyaknya proses implementasi ERP yang
gagal.
Oleh
karena itu, sebelum melibatkan sebuah konsultan
luar, manajemen perlu melakukan tahap-tahap berikut ini:
1.
Mewawancara staf yang diusulkan
kepada proyek dan buat draft yang
meyebutkan penempatan tugasnya.
2.
Tetapkan
dalam tulisan
bagaimana perubahan
staf ditangani.
3.
Lakukan
rujukan terhadap member
staf yang diusulkan.
4.
Selaraskan kpentingan konsultan
yang organisasi itu bernegosiasi sebuah
skema pay-per-
performance yang didasari
pencapaian
tertentu atas
proyek. Contohnya, jumlah uang yang dibayar kepada
konsultan mungkin berada di kisaran 85 sd 115 persen dan upah kontrak, tergantung dari
apakah kesuksesan proyek pengimplementasian
berada sesuai jadwal atau
tidak.
5.
Buat waktu
tenggat
pemutusan
yang tegas kepada
konsultan
untuk
menghindari konsultasi yang
tidak ada akhirnya, yang
berakibat ketergantungan
dan
upah yang mengalir tanpa henti. Biaya tinggi dan biaya yang melebihi anggaran Resiko yang
ada bebentuk
biaya yang di anggap terlalu rendah atau yang tidak diantisipasi.
Masalah
yang sering muncul
terjadi dalam beberapa area yaitu:
1.
Pelatihan.
Biaya pelatihan
selalu lebih tinggi
dari yang
diperkirakan
karena manajemen berfokus terutama pada biaya mengajarkan pekerja perangkat lunak baru. Hal ini sebenarnya hanya sebagian
dari pelatihan yang dibutuhkan.
Pekerja juga harus mempelajari prosedur baru,
yang seringkali diabaikan saat proses penganggaran.
2.
Pengujian dan penyatuan sistem.
ERP merupakan model keseluruhan yang
dalam teorinya satu sistem yang
menggerakkan seluruh organisasi.
Pada kenyataannya,
banyak organisasi menggunakan
ERP
sebagai tulang punggung yang terikat pada sistem lama dan perangkat lunak bolt-on, yang
mendukung kebutuhan khusus perusahaan. Menggabungkan sistem
yang tidak sama ini dengan sistem ERP dapat melibatkan penulisan program konversi atau bahkan memodifikasi kode
internal dari ERP.
Penggabungan
dan
pengujian dilaksanakan dengan
basis case-by-case,
jadi
biayanya sangat
sulit ditaksir sebelumnya.
3.
Konversi basis data.
Sebuah sistem ERP baru biasanya berarti basis data baru. Konversi data merupakan proses mengalihkan
data dari sistem lama
kepada basis data ERP. Jika data sistem lama handal,
proses konversi dilaksanakan lewat prosedur yang
otomatis. Meskipun dengan kondisi ideal, pengujian
dan rekonsiliasi manual dibutuhkan
untuk menjamin
bahwa pemindahan
telah lengkap
dan akurat.
Proses implementasi ERP ini memerlukan biaya yang besar
sedangkan
manfaatnya tidak dapat dirasakan dalam jangka waktu yang pendek. Untuk itu, manajemen harus pandai menaksir kuntungan yang
didapat dari pengimplementasian
ini agar tidak mengalami kerugian akibat proses ini.
Gangguan
Operasi Sistem ERP dapat mengacaukan operasi perusahaan yang
memasangnya. Hal ini disebabkan sistem ERP ini
terlihat asing
dibandingkan dengan sistem lama
sehingga memerlukan periode penyesuaian untuk memperlancar
proses implementasi ini.
2.11.
Implikasi
Terhadap Kontrol
Internal
Dan Audit
Beberapa perhatian penting atas isu
kontrol internal dan audit, antara lain:
1.
Otorisasi transaksi
Kontrol perlu ditanamkan pada
sistem untuk memvalidasi transaksi
sebelum diterima dan digunakan modul lain. Tantangan bagi auditor adalah
memverifikasi otorisasi transaksi
untuk mendapatkan pengetahuan yang terperinci atas konfigurasi sistem ERP dan pengertian
yang seksama atas
proses bisnis dan arus informasi antara komponen sistem.
2.
Pemisahan Tugas
Keputusan operasional organisasiberbasis ERP berusah didekatkan dengan
sumber dari kejadiannya. Proses manual yang memerlukan pemisahan tugas seringkali dihilangkan dalam lingkungan ERP. Hal
ini menimbulkan permasalahan baru bagaimana
mengamankan, mengontrol suatu sistem agar
dapat menjamin pemisahan
tugas berjalan dengan
baik. Untuk memecahkan
masalah ini, SAP memperkenalkan
teknik user role. Seiap role diberikan
suatu set aktivitas yang ditugaskan pada pengguna yang
berwenang dalam sistem
ERP.
Auditor perlu memastikan apakan
role
ini
diberikan sesuai
dengan tanggung jawab kerjanya.
3.
Pengawasan
Seringkali kegagalan dari implementasi ERP
dikarenakan manajemen tidak mengerti
dengan
baik
pengaruhnya terhadap bisnis. Seringkali, setelah ERP berjalan, hanya tim implementasi yang
mengerti cara kerjanya. Karena peran tradisional
akan
diganti, supervisor
perlu
mendapatkan pengertian
teknis dan operasional yang
mendalam atas sistem baru ini. Supervisor
seharusnya memiliki
waktu untuk mengelola
melalui kemampuan
pengawasan yang ditingkatkan serta meningkatkan rentang kontrol
mereka.
4.
Accounting Records
Dalam
sistem ini data OLTP dapat dengan mudah
diproses menjadi berbagai macam produk akuntansi, resiko yang
ada dapat diminimalkan dengan meningkatkan akurasi entri data. Tetapi, Walaupun
menggunakan teknologi ERP,
beberapa
resiko atas akurasi accounting
records masih
muncul. Hal ini disebabkan
karena data yang
rusak
atau tidak akurat akibat
melewati sumber eksternal. Data
ini dapat berisi duplicate records, nilai yang
tidak akurat, atau fields yang tidak lengkap. Oleh karena itu dibutuhkan
pembersihan data untuk mengurangi
resiko dan
menyakinkan
data yang paling akurat dan terkini
yang diterima.
5.
Kontrol akses
Security merupakan isu yang penting dalam implementasi
ERP. Tujuan dari security ini untuk menyediakan kerahasiaan, kejujuran, dan ketersediaan
informasi yang dibutuhkan. Apabila security
lemah, dapat menyebabkan
pembeberan rahasia
dagang kepada pesaing dan akses
tanpa izin.
a.
Akses Kepada Data
Warehouse
Kontrol
dari akses
merupakan fitur penting
data warehouse yang
dibagi kepada
konsumen dan pemasok. Organisasi seharusnya
membangun prosedur
untuk mengawasi otorisasi
individual ditempat konsumen dan
suplier yang akan
diberi akses kedalam data
warehouse-nya.
b.
Perencanaan Kontingensi
Organisasi harus mempunyai rencana kontingensi yang rinci dapat digunakan
sewaktu-waktu bila terjadi bencana yang dikembangkan untuk operasi
komputer dan bisnis. Rencana ini perlu dikembangkan sebelum sistem ERP berjalan. Organisasi yang
memiliki unit bisnis yang sangat terintegritas mungkin memerlukan satu system ERP yang
dapat diakses melalui internet
atau
private line dari
seluruh dunia
untuk mengkonsolidasikan data
dari sistem sekunder. Sedangkan perusahaan dengan unit organisasi yang berdiri
sendiri dan tidak berbagi konsumen, pemasok, atau produk yang
sama seringkali memilih
untuk memasang server
regional.
c.
Verifikasi
Independen
Fokus verifikasi independen atas sistem ini tidak tertumpu pada tingkatan
transaksi, tetapi secara keseluruhan. Hal ini menyebabkan usaha
verifikasi independen hanya dapat
dilakukan oleh tim yang mahir
teknologi ERP.
6.
Mengaudit data warehouse
Dalam
mengaudit sistem informasi,
auditor harus dapat mendesain
prosedur untuk mengumpulkan bukti
atas asersi
manajemen yang
berhubungan dengan laporan keuangan perusahaan. Data yang
terkandung
dalam data warehouse merupakan sumber yang
sangat baik dalam menyelenggarakan analisis time-series dan ratio. Walaupun
demikian,
auditor perlu memahami prosedur dalam mempopulasi warehouse. Pembersihan data
merupakan tahapan
penting dalam
mengelola warehouse agar berguna dengan
baik. Jadi, auditor harus berhati-hati menggantungkan diri pada warehouse.
BAB III
PENUTUP
3.1. Kesimpulan
ERP adalah bagian dari infrastruktur perusahaan dan sangat penting
untuk kelangsungan
hidup perusahaan. ERP merupakan Sistem
Informasi
untuk
mengidentifikasi dan merencanakan sisi sumber daya yang
dibutuhkan perusahaan untuk
digunakan, dibuat, dikirim dan
dihitung
secara efisien dan merespon
kebutuhan pelanggan
dengan baik.
Implementasi ERP mencakup mengenai Pembuatan common database. [Semua information seperti customers, suppliers, employees, transactions dsb. Dapat disimpan
di satu tempat.] Manfaatnya yaitu Efisiensi proses bisnis, Menawarkan sistem
terintegrasi di dalam perusahaan,
sehingga proses dan
pengambilan keputusan dapat
dilakukan secara lebih
efektif dan efisien
dan Memungkinkan
melakukan integrasi secara global dan Memfasilitasi hubungan komunikasi secara internal dan eksternal dalam dan luar
organisasi.
Tujuan dari implementasi ERP adalah untuk
meningkatkan daya saing perusahaan. Selain berdampak pada
proses bisnis, implementasi juga
berpengaruh
secara
signifikan pada
perubahan budaya perusahaan. Untuk mengkoordinasikan bisnis
organisasi. Secara keseluruhan ERP merupakan perangkat lunak yang
ada dalam
organisasi/perusahaan untuk Otomatisasi
dan integrasi
banyak proses
bisnis, Membagi database yang umum dan praktek bisnis melalui enterprise, Menghasilkan informasi yang
real-time dan Memungkinkan
perpaduan proses
transaksi
dan kegiatan
perencanaan.
3.2. Saran
Sebaiknya dalam implementasi sistem ERP memperhatikan hal – hal apa saja yang
berpengaruh seperti ukuran bisnis, ruang
lingkup dari perubahan dan peran serta
pelanggan, Juga alternatif – alternatif apa saja yang
bisa digunakan karena sistem ERP pada setiap
unit perusahan
berbeda – beda.
DAFTAR PUSTAKA
http://deniarib.blogspot.com/2014/06/makalah-erp-enterprise-resource-planning.html
https://killuazoldyck10.wordpress.com/2013/08/03/konsep-dasar-erp/
http://yudhistira-kardin.blogspot.co.id/2015/09/erp-enterprise-resource-planning.html
http://staff.uny.ac.id/sites/default/files/pendidikan/Dhyah%20Setyorini,%20M.Si.,%20Ak./BAB%206%20SISTEM%20PERENCANAAN%20SUMBER%20DAY A%20PERUSAHAAN.pdf
http://jinywulandhari.blogspot.co.id/2015/03/implementasi-sistem-erp.html
https://kalsumulmi.blogspot.com/2019/09/perencanaan-sumber-daya-perusahaan-erp.html
https://idcloudhost.com/kelebihan-dan-kekurangan-sistem-erp-enterprise-resource-planning/

Komentar
Posting Komentar